This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 04 Mei 2014

” RESOURCE-BASED LEARNING”

Belajar dan Pembelajaran
 RESOURCE-BASED LEARNING
DISUSUN OLEH:
Delly Haryani                              

RESOURCE-BASED LEARNING
Pengertian “Resource-Based Learning” adalah segala bentuk belajar yang langsung Menghadapkan murid dengan suatu atau sejumlah sumber belajar, secara individual atau kelompok dengan segala kegiatan belajar yang bertalian dengan itu, jadi bukan dengan cara yang konvensional dimana guru menyampaikan bahan pelajaran kepada murid. maksudnya sumber belajar yang dijelaskan diatas adalah segala sesuatu (berupa data, orang atau benda) yang dapat dimanfaatkan untuk membuat atau membantu peserta didik belajar.
Pesan         orang           benda          alat            teknik            latar lingkungan
Jadi disini dalam metode “Resource-Based Learning” guru bukan merupakan sumber belajar satu-satunya. Murid dapat belajaran dalam laboraaturium, dalam perustakaan dan bahkan diluar sekolah yang mereka dapat berfikir sendiri bagaimana memecahkan masalah tertentu.Dengan metode ini siswa di latih untuk belajar mandiri. Dengan penemuan sendiri, maka setiap siswa memiliki konsep dengan konsep tersebut mereka di tuntut untuk melahirkan kembali dalam bentuk berbeda, di sini mereka di beri kebebasan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu dengan menuangkan kembali konsep yang telah ada dengan bahasa mereka sendiri, dan secara tidak langsung hal semacam ini menjadikan anak didik atau siswa lebih kreatif dan mandiri. Disinilah letak pentingnya penggunaan metode belajar resource based learning dalam meningkatkan kemandirian belajar siswa.
Secara umum, cara belajar (learning style) peserta didik dapat dikategorikan ke dalam 4 hal. Yaitu: 
  • 1. Cara belajar somatik, yakni pola belajar yang lebih menekankan pada aspek gerak tubuh atau belajar dengan melakukan.
  • 2. Cara belajar auditif, yaitu cara belajar yang lebih menekankan pada aspekpendengaran, peserta didik akan cepat menangkap materi pelajaran jika materidisampaikan dengan ceramah atau alat yang dapat didengar.
  • 3. Cara belajar visual, yaitu cara belajar yang lebih menekankan pada aspek penglihatan, peserta didik akan cepat menangkap materi pelajaran, jika disampaikan dengan tulisanatau melalui gambar. 
  • 4. Cara belajar intelektual, yaitu cara belajar yangmenekankan pada aspek penalaran atau logika. Peserta didik akan cepat menangkap materi, jika pembelajaran dirancang dengan menekankan pada aspek mencai solusi pemecahan.
Latar belakang Resource-Based Learning”
Belajar berdasarkan sumber atau Resource-Based Learning” bukan suatu yang berdiri sendiri, melainkan bertalian erat dengan sejumlah perubahan0perubahan yang memepengaruhi pembinaan kurikulum. Perubahan-perubahn itu mengenai:
1.     Perubahan dalama sifat dan pola ilmu pengetahuan manusia
2.     Perubahan dlaam masyarakat dan tafsiran kitatentang tuntutannya
3.     Perubahan tentang pengrtian kita tentang anak dan crannya belajar
4.     Perubahan dalam media kumunikasih.
Perubahan dalam pengetahuan manusia
Pengetahuna manusia akhir-akhir ini berkembangan dengan cepat sekali, sehingga dijuluki sebagai eksplosi pengetahuan. Eksplosi pengetahuan bukan hanya mengenai pertambahan ilmu pengetahuan, melainkan juga perubahan dalam pola pengetahuan itu sendiri. Disamping eksplosi pengetahuan, terjadi pula eksplosi publikasi, karangan-karangan ilmiah dan teknologi terus bertambah dalam tiap tahunnya, akan tetapi yang mungkin dapat dikuasai hanya hal-hal yang paling umum saja yang dapat diajarkan disekoalah. Dengan perkembangan ilmu yang begitu cepat pengetahuan kita akan menjadi using dalam waktu sepuluh tahun, dan mungkin sekarang pun telah using dan tidak berlaku lagi, maka karena itu perlu adanya suatu teori tentang cara menyeleksi bahan pelajaran, cara menentukan prioritas pengetahuan yang akan dimasukkan kedalam kurikulum, yakni pengetahuan yang paling penting dan paling beguna. Namun sulit diramal pengetahuan apa yang akan berguna bagi anak dimasa mendatang Tetapi yang lebih penting ialah memupuk sikap dan teknik belajar, agar peserta didik dapat terus belajar sepanjang hidupnya.
Belajar tidak hanya berlangsung didalam sekolah. Timbulah pendirian bahwa sekolah bukan satu-satunya alat pendidikan, bahkan ada yang menginginkan agar sekolah dihapuskan saja didigantikan dengan “learning webs atau network, jadi dalam “de-schooling society” ini, yakni masyarakat tanpa kelembagaan sekolah, seluruh masyarakat diminta kerja sama dan berpartispasi. Anak-anak belajar atas kemauannya sendiri dalam suasana kebebasan memilih dan bebas dari otoritas lembaga sekolah.

Pemahan baru tentang pelajar

Jika dahulu diutamakan soal mengajar, maka akhir-akhir ini ditonjolkan soal belajar, setidaknya dalam tiori. Selain itu diketahui bahwa belajar dapat akan berhasil bila bahan pelajarannya sesuai dengan kebutuhan dan minat anak. Diketahui setiap anak itu berbeda secara individual,  bahwa perbedaan individual itu perlu mendapatkan perhatian yang lebih banyak.
Dalam kenyataan, masih kebanyakan proses belajar mengajar di lakukan secara klasikal walaupun diketahui bahwa ada perbedaan individual, namun tetap diharapkan dan dituntut dari setiap anak untuk belajar dengan kecepatan yang sama. Walaupun diketahui setiap anak itu berbeda Dalam kenyataan, masih kebanyakan proses belajar mengajar di lakukan secara klasikal walaupun diketahui bahwa ada perbedaan individual, namun tetap diharapkan dan dituntut dari setiap anak untuk belajar dengan kecepatan yang sama.. Dalam pengajaran klasikal anak yang lambat dan anak yang berbakat boleh dikatakan tidak mendapat perhatian yang selayaknya, dengan metode yang sama tidak semua murid memperoleh manfaat yang sama dengan artian bahwa setiap anak memiliki cara-cara tersendiri dalam memahami suatu pelajaran, ada kalanya seorang anak merasa mudah memahami suatu pelajaran dengan membaca, maka dia cukup dengan membaca. Tetapi ada juga yang hanya dengan mendengar sudah cukup untuk memahami suatu pelajaran. Salah satu usaha untuk mempertimbangkan perbedaan individual itu adalah pengajaran berdasarkan sumber-sumber, resource based learning. Cara belajar yang serupa ini memberi kebebasan kepada anak untuk belajar sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Ia bebas pula belajar sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya. Dengan cara ini kegagalan dan frustasi dapat dibatasi.

Perubahan dalam media komunikasi
Perkembangan media komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat dewasa ini, media cetak yang berupa buku, modul, media elektronik yang berupa radio, TV, video, komputer, internet, dan sebagainya telah menambah dimensi baru dalam media komunikasi. Ada yang berpendapat bahwa banyak dari apa yang diketahu anak pada zaman modern ini diperoleh melalui media massa.
Pendidik perlu melihat manfaat kemajuan media komunikasi bagi pembelajaran. Buku sampai sekarang masih memegang peranan  penting, namun ada yang meramalkan dalam waktu dekat semua aspek kurikulum akan dikomputerkan. Penggunaan media dalam pendidikan dimulai dengan memperkenalkan “audio visual aids” pada tahun 1920-an di Amerika Serikat. Alat-alat dipandang sebagai alat bantu pendidik dalam mengajar, sebagai tambahan yang dapat digunakan pendidik bila dikehendakinya.
Pada tahun 1960-an muncul pemikiran baru tentang penggunaan media yang dirintis oleh Skinner dengan penemuannya “programmed instruction” atau pengajaran berprograma mempunya pengaruh besar pada teknologi pendidikan . Dengan alat ini peserta didik belajar secara individual. Alat tersebut bukan sekedar alat bantu tambahan tetapi sesuatu yang digunakan peserta didik dalam pembelajaran. Pengajaran berprograma mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan teknologi pendidikan.misalnya Negara-begara besar sudah memanfaatkan media komunikasih ini sebagai proses belajar.


Ciri-ciri belajar berdasarkan sumber

a. Belajar berdasarkan sumber (BBS) memanfaatkan sepenuhnya segala sumber informasi sebagai sumber bagi pelajaran termasuk alat-alat audio visual dan memberi kesempatan untuk merencanakan kegiatann belajar dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia.
b. Belajar berdasarkan sumber berusaha memberi pengertian kepada siswa tentang luas dan aneka ragamnya sumber-sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk belajar.
c. Belajar berdasarkan sumber berhasrat untuk mengganti pasivitas murid dalam belajar tradisional dengan belajar aktif didorong oleh minat dan keterlibatan diri dalam pendidikannya.
d. Belajar berdasarkan sumber berusaha untuk meningkatkan motivasi belajar dengan menyajikan berbagai kemungkinan tentang bahan pelajaran metode kerja, dan medium komunikasi, yang berbeda sekali dengan kelas yang konvensional yang mengharuskan murid –murid belajar yang sama dengan cara yang sama.
e. Belajar berdasarkan sumber memberi kesempatan kepada murid untuk bekerja menurut kecepatan dan kesanggupan masing- masing dan tidak dipaksa bekerja menurut kecepatan yang sama dalam hubungan kelas.
f. Belajar berdasarkan sumber lebih fleksible dalam penggunaan waktu dan ruang belajar. Jadi dengan cara belajar ini murid- murid tidak diharuskan belajar bersama dalam ruang yang sama pada waktu yang sama.
g. Belajar berdasarkan sumber berusaha mengembangkan kepercayaan akan diri sendiri dalam hal belajar yang memungkinkannya untuk melanjutkan belajar sepanjang hidupnya. Murid -murid dibiasakan untuk mencari dan menemukan sendiri sehingga ia tidak selalu bergantung pada orang lain.
Belajar berdasarkan sumber tidak meniadakan peranan guru. Juga tidak berarti bahwa guru dapat duduk bermalas-malasan dan membiarkan murid belajar diperpustakaan atau laboraturium. Guru itu terlibat dalam setiap langkah proses belajar, dari perancanaan, penentuan dan pengumulan sumber-sumber informasi, member motifasi, member bantuan apabila diperlukan dan bila dirasanya perlu memperbaiki kesalahan. Gurulah yang mengusahakan adanya keseimbangan antar waktu untuk belajar sendiri, bekerja dalam kelompok dan berdiskusi dan memberikan informasi dan penjelasan secara langsung dengan metode ceramah. Jadi tujuan pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh murid dalam metode belajar ini banyak dipengaruhi oleh guru juga.
Dengan pelaksanaannya guru harus kerja sama dengan ahli perpustakaan yang lebih mengenal sumber-sumber bacaan yang ada. Ada kalanya diperklukan alat pelajaran berupa grafik atau gambar untuk menjelaskan konsep tertentu. Untuk itu diperlukan orang yang ahli dalam pembuatan alat peraga sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Kerja sama juga diperlukan dengan guru-guru laian yang mempunyai keahlian dan pengalaman masing-masing didalam dan diluar sekolah. Kerja-sama yang erat antara guru-guru terdapat dalam team teaching, dalam kelompok atau team guru dapat saling bertukar pengalaman, saling membantu dalam kesulitan pendidikan.
Pelaksanaannya
“ Resource – based learning “ adalah cara belajar yang bermacam-macam bentuk dan segi-seginya. Metode ini dapat singkat atau panjang, berlangsung selama satu jam pelajaran atau satu setengah semester dengan pertemuan dua kali seminggu selama satu atau dua jam, dapat di arahkan oleh guru atau berpusat pada kegiatan murid, dapat mengenai satu mata pelajaran tertentu atau melibatkan berbagai disiplin, dapat bersifat individual atau klasikal, dapat menggunakan alat audio visual yang di amati secara individual atau di perlihatkan kepada seluruh kelas. Metode ini tampaknya sebagai suatu yang terdiri atas berbagai komponen yang meliputi pengajaran langsung oleh guru, penggunaan buku pelajaran biasa, latihan-latihan formal, maupun kegiatan penelitian, pencarian bahan dari berbagai sumber, latihan memecahkan soal dan penggunaan alat-alat audio visual. Metode ini dapat pula didasarkan atas penelitian, pengajar proyek, pengajaran unit yang terintegrasi, pendekatan inter displiner, pelajaran individual dan pengajaran aktif. Yang penting ialah bahwa setiap metode yang digunakan bertalian dengan tujuan yang ingin di capai. Tujuan untuk mendidik anak agar sanggup memecahkan masalah memerlukan metode yang lain bila tujuannya mengumpulkan informasi. Jika dalam belajar berdasarkan sumber diutamkan tujuan untuk mendidik murid menjadi seorang yang sanggup belajar dan meneliti sendiri, maka ia harus dilatih untuk menghadapi masalah-masalah yang terbuka bagi jawaban-jawaban yang harus diselidiki kebenarannya berdasarkan data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, baik dari penelitian perpustakaan, eksperimen dalam laboratoriun, maupun sumber-sumber lain.
 “ Resource – based learning “ tidak hanya sesuai bagi pelajaran ilmu social, akan tetapi juga bagi ilmu pengetahuan alam. Pada hakekatnya setiap mata pelajaran dapat mempunyai komponen yang bertalian dengan sumber tertentu.
            Dalam pelaksanaan cara belajar ini perlu diperhatikan hal-hal berikut :

1.Pengetahuan yang ada
            Ini mengenai pengetahuan guru tetang latar belang murid dan penegtahuan murid tentang bahan pelajaran.

2.Tujuan pelajar
Guru harus merumuskan dengan jelas tujuan apa yang ingin dicapai dengan pelajaran itu. Tujuan ini tidak hanya mengenal bahan yang harus dikuasai akan tetapi juga keterampilan dan tujuan emisional dan social.tujuan ini turut menentukan metode yang akan digunakan.

3.Memilih Metodologi
metode pelajaran banyak ditentukan oleh tujuan. Bila topic yang dihadapi itu luas seperti dalam pengajaran unit, berbagai ragam metode akan perlu digunakan. Biasanya metode itu akan mengandung unsure-unsur berikut:
·       Uraian tetang apa yang akan dipelajari
·       Diskusi dan pertukaran pikiran.
·       Kegiatan-kegitan yang menggunakan alat intruksional, laboratoriium, dll
·       Kegiatan-kgiatan dalam lingkungan sekitar sekolahseperti kunjungan kerja lapangan, eksporasi, penelitian.
·       Kegiatan-kegiatan yang menggunakan berbagai sumber belajar seperti perpustakaan, alat audio-visual dll
·       Kegiatan kreatif seperti drama,seni rupa, music, pekerjaan tangan.

            Dalam berbagai kegiatan itu murid-murid berlatih untuk mengadakan observasi yang sistematis, membuat catatan, dan membuat laporan tertulis.

4.Koleksi dan penyediaan bahan
Harus diketahui bahan dan alat yang dimiliki oleh sekolah. Bahan dapat pula dipinjam, seperti buku dari perpustakaan umum. Bahan yang diperlukan oleh semua murid dapat di perbanyak dengan mesin stensil atau fotocopy. Juga bahan untuk kreatif dan lain-lalumnya.

5.penyediaan tempat
Penggunaan tempat tidak dapat dipergunakan secara bersamaan. Misalnya perpustakaan
http://dellyharyani.blogspot.com/2012/10/belajar-dan-pembelajaran.html

Model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI)

1. Pengertian model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction
Secara subtantif dan teoritik Aptitude Treatment Interaction (ATI) dapat dijadikan sebagai suatu konsep atau pendekatan yang memiliki sejumlah strategi pembelajaran yang efektif digunakan untuk individu tertentu sesuai dengan kemampuannya masing-masing
Dipandang dari sudut pembelajaran (Teoritik), ATI approach merupakan sebuah konsep yang berisikan sejumlah strategi pembelajaran yang sedikit banyaknya efektif digunakan untuk siswa tertentu sesuai dengan karakteristik kemampuannya. Didasari oleh asumsi bahwa optimalisasi prestasi akademik/hasil belajar dapat dicapai melalui penyesuaian antara pembelajaran (treatment)dengan perbedaan kemampuan (aptitude) siswa.
Sejalan dengan pengertian diatas, Cronbach yang dikutip Syafruddin Nurdin mengemukakan bahwa ATI approach adalah sebuah pendekatan yang berusaha mencari dan menemukan perlakuan-perlakuan (treatment) yang cocok dengan perbedaan (aptitude)kemampuan siswa, yaitu perlakuan (treatments) yang secara optimal diterapkan untuk siswa yang berbeda tingkat kemampuannya.
Berdasarkan pengertian yang dikemukakan diatas, dapat diperoleh makna esensial dari ATI approach, sebagai berikut :
1.    ATI approach merupakan suatu konsep atau model yang berisikan sejumlah strategi pembelajaran (treatment) yang efektif digunakan untuk siswa tertentu sesuai dengan perbedaan kemampuannya.
2.  Sebagai sebuah kerangka teoritik ATI approach berasumsi bahwa optimalisasi prestasi akademik/hasil belajar akan tercipta bila mana perlakuan-perlakuan dalam pembelajaran disesuaikan sedemikian rupa dengan perbedaan kemampuan (aptitude)siswa.
3.      Terdapat hubungan timbal balik antara prestasi akademik/hasil belajar yang dicapai siswa dengan pengaturan kondisi pembelajaran di kelas atau dengan kata lain, prestasi akademik/hasil belajar yang diperoleh siswa tergantung kepada bagaimana kondisi pembelajaran yang dikembangkan guru di kelas.
2. Tujuan model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction
Dari rumusan pengertian dan makna essensial yang telah dikemukakan di atas, terlihat bahwa secara hakiki ATI approach bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan suatu model pembelajaran yang betul-betul peduli dan memperhatikan keterkaitan antara kemampuan(aptitude)  seseorang dengan pengalaman belajar atau secara khas dengan metode pembelajaran(treatment).
Untuk mencapai tujuan seperti yang digambarkan di atas, ATI approach berupaya menemukan dan memilih sejumlah pendekatan, metode/cara, strategi, kiat yang akan dijadikan sebagai perlakuan (treatment) yang tepat yaitu treatment yang sesuai dengan perbedaan kemampuan (aptitude) siswa. Keberhasilan model pendekatan ATI mencapai tujuan dapat dilihat dari sejauh mana terdapat kesesuaian antara perlakuan-perlakuan (treatment) yang telah diimplementasikan dalam pembelajaran dengan kemampuan (aptitude) siswa.
Kesesuaian tersebut akan termanifestasi pada prestasi akademik/hasil belajar yang dicapai siswa. Semakin tinggi optimalisasi yang terjadi pada pencapaian prestasi akademik/hasil belajar siswa, maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pengembangan model pembelajaran ATI. Demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan utama ATI approach adalah terciptanya optimalisasi prestasi akademik/hasil belajar melalui penyesuaian pembelajaran (treatment) dengan perbedaan kemampuan (aptitude) siswa.
3. Prinsip model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction
Agar tingkat keberhasilan model pembelajaran dapat tercapai dengan baik, maka dalam implementasinya perlu diperhatikan beberapa prinsip yang dikemukakan oleh Snow (Hikmayanti 2009 : 20) yaitu :
1.  Bahwa interaksi antara kemampuan (aptitude) dan perlakuan (treatment) pembelajaran berlangsung di dalam pola yang kompleks dan senantiasa dipengaruhi oleh variabel-variabel tugas/jabatan dan situasi.
2.  Bahwa lingkungan pembelajaran yang sangat terstruktur cocok bagi siswa yang memiliki kemampuan rendah, sedangkan lingkungan pembelajaran yang kurang terstruktur(fleksibel) lebih pas untuk siswa yang pandai.
3.  Bahwa bagi siswa yang memiliki rasa percaya diri kurang atau sulit dalam menyesuaikan diri (pencemas atau minder), cenderung belajarnya akan lebih baik bila berada dalam lingkungan belajar yang sangat terstruktur. Sebaliknya bagi siswa yang memiliki rasa percaya diri tinggi akan lebih baik dalam situasi pembelajaran yang agak longgar(fleksibel).
Dari prinsip-prinsip yang dikemukakan di atas, dapat dimengerti bahwa dalam mengimplementasikan model pembelajaran ATI, masalah pengelompokan dan pengaturan lingkungan belajar bagi masing-masing karakteristik kemampuan (aptitude) siswa, merupakan masalah mendasar yang harus mendapat perhatian yang serius.
4. Langkah-langkah pembelajaran Aptitude Treatment Interaction
Berdasarkan prinsip-prinsip model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction di atas maka dapat diadaptasi beberapa langkah yang dilakukan dalam pembelajaran, yaitu:
1.      Melaksanakan pengukuran kemampuan masing-masing siswa melalui tes kemampuan(aptitude testing). Hal ini dilakukan guna untuk mendapatkan data yang jelas tentang karakteristik kemampuan (aptitude) siswa.
2.      Membagi siswa atau mengelompokkan siswa menjadi tiga kelompok sesuai dengan klasifikasi yang didapatkan dari hasil aptitude testing. Pengelompokan siswa tersebut diberi label tinggi, sedang dan rendah.
3.     Memberikan perlakuan (treatment) kepada masing-masing kelompok (tinggi, sedang dan rendah) dalam pembelajaran.
4.   Bagi kelompok siswa yang memiliki kemampuan (aptitude) tinggi, perlakuan(treatment) yang diberikan yaitu belajar mandiri (self learning) dengan menggunakan modul atau buku-buku yang relevan. Pemilihan belajar mandiri melalui modul didasari anggapan bahwa siswa akan lebih baik jika dilakukan dengan cara sendiri yang terfokus langsung pada penguasaan tujuan khusus atau seluruh tujuan. Dengan kata lain dengan menggunakan modul siswa dapat mengontrol kecepatan masing-masing, serta maju sesuai dengan kemampuannya.
5.   Bagi kelompok siswa yang berkemampuan sedang dan rendah diberikan pembelajaran regular atau pembelajaran konvensional sebagaimana mestinya.
6.    Bagi kelompok siswa yang mempunyai kemampuan rendah diberikan special treatment, yaitu berupa pembelajaran dalam bentuk re-teaching dan tutorial.Perlakuan (treatment) diberikan setelah mereka bersama-sama kelompok sedang mengikuti pembelajaran secara regular. Hal ini dimaksudkan agar secara psikologis siswa berkemampuan rendah tidak merasa diperlakukan sebagai siswa nomor dua di kelas. Re-teaching-Tutorial dipilih sebagai perlakuan khusus untuk kelompok rendah, didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka lambat dan sulit dalam memahami secara menguasai bahan pelajaran. Oleh karena itu kelompok ini harus mendapat apersiasi khusus berupa bimbingan dan bantuan belajar dalam bentuk pengulangan pelajaran kembali melalui tambahan jam pelajaran (re-teaching) dan tutorial (tutoring), sehingga dengan cara demikian mereka bisa menguasai pelajaran yang  diberikan. Karena seperti diketahui bahwa salah satu tujuan pembelajaran atau program tutoring adalah untuk memberikan bantuan dalam pembelajaran kepada siswa yang lambat, sulit dan gagal dalam belajar, agar dapat mencapai prestasi akademik/hasil belajar secara optimal.
http://inspirasi-syafei.blogspot.com/2012/02/model-pembelajaran-aptitude-treatment.html

Kamis, 19 September 2013

Cara Agar Matematika Tak Memusingkan Anak


Penulis :Ali Sobri

Hal tersebut diungkapkan Presiden Asian Science and Mathematics Olympiad for Primary School (ASMOPS) Ali Godjali, yang menurutnya kedua mata pelajaran tersebut dapat dibuat menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi anak-anak hanya bila disampaikan dengan metode Gasing.

"Metode pembelajaran GASING yaitu gampang, asik dan menyenangakan, merupakan metode belajar matematika atau sains dengan cara yang lebih sederhana, dengan pendekatan logika dan hampir tanpa rumus, jadi tidak akan membuat siswa pusing atau benci terhadap matematika atau sains," katanya kepada Kompas.com di sela-sela memantau ASMOPS 2012 di Hotel Grand Zuri, BSD City, Tangerang, Rabu (7/11/2012).

Dosen matematika Surya Institute, Tangerang ini menjelaskan, untuk menangani materi matematika bagi siswa SD, yang paling terpenting adalah penguasaan berhitung dulu. Pembelajarannya lebih banyak menggunakan peragaan.

"Untuk siswa kelas 1-3, kita dapat belajar matematika dengan bantuan alat peraga, kita dapat menggunakan tangan dan alat-alat bergerak untuk menghitung. Yang penting aktif bergerak dan berhitung,"ucap lulusan Mathematics, Barkeley University, America ini.

Ali mencotohkan beberapa metode pembelajaran matematika dapat juga dengan bantuan lain seperti musik dan komputer.

"Dengan nyanyian siswa bisa untuk menghafal perkalian misalnya, atau dengan menggunakan software program games di komputer. Dimana pada games tersebut, misalnya games tembak-tembakan, ada permainan berhitungnya, seperti 1+2 sama dengan berapa? Nah yang harus ditembak adalah angka 3 di permainan itu,"ulasnya lagi.

Adapun untuk pendidikan sains, trainer Gasing Surya Institute Yuni Widyatuti menjelaskan, konsep sains konsep yang benar akan lebih menekankan pada logika dibandingkan dengan menggunakan rumus-rumus turunan.

"Biarkan mereka (anak-anak) yang menemukan sendiri, sampai mereka berkata 'Aha' sendiri dengan ekplorasinya sendiri," tutur Yuni di tempat yang sama.

Yuni menuturkan, sebelum memulai pelajaran, ia menyarankan para guru untuk menyenangi dulu materi pelajaran yang akan disampaikan pada siswa.

"Kita harus meyakinkan, sama-sama senang dulu, kalau ada hands on atau experience, maka matangkan dulu. Jadi ketika melakukan percobaan di depan kelas, maka anak-anak tertarik dan yakin apalagi kalau pembukaan pelajarannya asyik," katanya.

Ia menambahkan, selama ini metode pembelajaran dari guru ke siswa belum benar-benar membuat anak-anak senang dengan sains, akhirnya mereka tidak memahami konsep pengetahuan alam.

"Mereka bukan anak bodoh, anak itu cuma tidak dapat kesempatan guru yang kompeten dengan metoda yang efektif," ujarnya.

Yuni mencontohkan, bila ingin membuat daya tarik dalam belajar sains, guru atau orangtua di rumah bisa melakukan seperti salah satu yang dicontohkannya.

"Contoh yang spontan, soal Gangnam Style. Saat memasuki ruang kelas, coba buat suasana di kelas berbau gangnam. Nyalakan musiknya lalu tarikan gayanya. Hait, maka anak-anak bakal ikut gerakan kita. Setelah itu, kita ingatkan bahwa kita sedang belajar rangka. Anak-anak tulang apa saja yang bergerak kalau kita joget Gangnam? Dari sana kita perkenalkan pelajaran rangka," tuturnya.

Ia menegaskan, bahwa sains itu ada di sekeliling kita, jadi pelajaran sains bisa disampaikan secara spontan kepada anak-anak.

Menjaga rasa penasaran anak
Menjaga ketertarikan anak soal matematika atau sains, orangtua di rumah tidak lantas cuek dan membiarkan anaknya belajar sendiroi di rumah, Justru orangtua juga harus memiliki perannya.

Direktur Eksekutif Surya Institute Srisetiowati Seiful mengatakan, tidak cukup siswa belajar apa yang sudah dipelajarinya di sekolah, dari buku dan percobaan, tetapi juga saat anak belajar di rumah oranhtua harus siap mengikutinya.

"Metode Gasing bisa melibatkan anak dan orangtua. Saat anak sedang dalam curiosity-nya, rasa penasarannya, dan banyak bertanya dengaan orangtua mereka, maka jangan menghentikan pertanyaan anak. Upayakan menjawan sebisa mungkin, kakau pun menghindar jangan sekali kali mengatakan shut up, atau sudah jangan banyak tanya, tapi alihkan dengan, oke ibu harus masak dulu atau yang lainnya," ujar Sri saat berbincang dengan kompas.com di sela acara ASMOPS.

"Menjaga ketertarian anak soal pelajaran, tidak hanya sains dan matematika saja, tapi belajar dalam kehidupan dan belajar karakter, maka saya sarankan kebiasaan membacakan buku anak sebelum tidur dilakukan lagi, apalagi buku yang dalam dua bahasa, maka kemampuan anak akan lebih terasah dan peka terhadap kehidupan sehari-harinya," tambahnya.
Editor : Caroline Damanik

10 Cara Mengajar Matematika Untuk Anak SD


  1. Gunakan dramatisasi. Ajaklah anak-anak berpura-pura berada di sebuah bola (sphere) atau kotak (prisma), merasakan sisi-sisinya, ujung-ujungnya, dan sudutnya dan menyandiwarakan secara sederhana masalah aritmatika seperti: Tiga katak melompat dalam kolam dsb. 
  2. Menggunakan anggota tubuh anak-anak. Menyarankan agar anak-anak menunjukkan berapa banyak kaki, mulut, dan sebagainya. Ketika diminta untuk menampilkan “tiga tangan,” mereka akan menanggapi dengan protes keras, dan kemudian menunjukkan berapa banyak tangan yang mereka memiliki( “membuktikan”) ini. Kemudian mengajak anak-anak untuk menampilkan nomor dengan jari, dimulai dengan pertanyaaan sederhana, “Berapa usia Kamu?” Kemudian siswa diminta menunjukkan angka yang diminta guru. Selain itu guru menampilkan angka dalam berbagai cara (misalnya, menunjukkan lima dengan tiga pada jari tangan kiri dan dua di jari tangan kanan). 
  3. Menggunakan permainan. Melibatkan anak-anak bermain yang memungkinkan mereka untuk melakukan matematika dalam berbagai cara, termasuk pengurutan, menciptakan bentuk simetris dan bangunan, membuat pola, dan sebagainya. Kemudian memperkenalkan permainan jual-beli di toko, menunjukkan anak-anak permainan membeli dan menjual mainan atau benda kecil lainnya, belajar menghitung, aritmatika, dan konsep uang.
  4. Menggunakan mainan. Mendorong anak-anak untuk menggunakan “adegan” dan mainan untuk simulasi kejadian nyata, seperti tiga mobil di jalan, atau misalnya, untuk menunjukkan ada dua monyet di atas pohon dan dua di atas tanah.
  5. Menggunakan cerita anak-anak. Bercerita tentang sebuah kisah menarik yang didalamnya berisi konsep matematika. Jika perlu diperagakan khususnya untuk memperjelas konsep matematikanya 6. Gunakan kreativitas alami anak. Menggali ide anak tentang matematika harus didiskusikan dengan mereka. Misal seorang anak 
  6. tahun ditanya begini: “Pikirkan angka terbesar yang kamu tahu, lalu tambah angka itu dengan lima. Bayangkan kamu memiliki coklat sejumlah angka itu”. “Wow, itu 5 angka lebih besar yang kamu tahu”. 
  7. Menggunakan kemampuan pemecahan masalah. Menanyakan anak-anak untuk menjelaskan bagaimana mereka mengetahui masalah-masalah seperti mendapatkan hanya cukup untuk mereka gunting tabel atau berapa banyak makanan ringan mereka perlu jika tamu yang bergabung dengan grup. Mendorong mereka untuk menggunakan jari-jari mereka sendiri atau apapun yang mungkin berguna untuk memecahkan masalah.
  8. Menggunakan berbagai strategi. Bawalah matematika dimanapun di dalam kelas, dari menghitung jumlah anak-anak di pagi hari, menghitung meja kursi, meminta anak-anak untuk membersihkan barang yang ada nomor tertentu, atau membersihkan barang yang berbentuk geometris tertentu dsb.
  9. Menggunakan teknologi. Cobalah gunakan kamera digital untuk memotret hasil kerja anak, permainan dan aktifitas yang dilakukan, dan kemudian menggunakan foto untuk diskusi dengan anak-anak, perencanaan kurikulum, dan komunikasi dengan orang tua. Gunakan juga teknologi lain, seperti komputer secara bijak.
  10. Gunakan assessment untuk mengukur penilaian anak-anak belajar matematika. Menggunakan observasi, diskusi dengan anak-anak, dan kelompok-kecil untuk kegiatan belajar anak-anak tentang matematika dan berpikir untuk membuat keputusan tentang apa yang mungkin setiap anak dapat belajar dari pengalaman. Juga mencoba menggunakan komputer untuk penilaian menggunakan program secara otomatis.

Cara Mengajar Anak Sekolah Dasar

Mengajar anak Sekolah Dasar (SD) tentunya akan lebih sulit, karena pada tahap ini mereka mengalami masa transisi di mana baru memasuki proses belajar yang serius. Menjadi seorang guru SD tentunya banyak hal yang harus diperhatikan agar pembelajaran menjadi efektif, seperti : suara yang lantang dan juga intonasi yang beragam, selain itu dibutuhkan juga waktu untuk beristirahat dengan menyediakan ice breaker mengingat bahwa waktu konsentrasi mereka cenderung singkat. Berikut adalah beberapa teknik mengajar anak SD :
1.    Teknik Individual, terdiri dari:
a.    Directive counseling
Guru membuka jalan pemecahan karena anak yang belum matang mendiagnosis sendiri sukar memecahkan masalahnya, tanpa bantuan dari pihak lain yang berpengalaman.
b.    Non-directive counseling
Fokus pada anak yang bermasalah dan sang anak yang menentukan sendiri apakah dia membutuhkan pertolongan dari pihak lain.
c.    Eclective counseling
Masalah yang dihadapi itulah yang harus ditangani

Merupakan teknik bimbingan kelompok yang bertujuan  secara luwes, sehingga tentang apa yang dipergunakan setiap waktu dapat diubah kalau memang diperlukan.

2.    Teknik Kelompok, terdiri dari:
a.    Home room agar para guru atau pertugas bimbingan dapat mengenal murid-muridd secara lebih tepat sehingga dapat membantunya secara lebih efektif (Eddy Hendrarno, dkk; 2003). Jumlah anggota kelompok dapat berupa kelompok kecil (5-10 orang) maupun kelompok besar (25-30 orang). Tujuan teknik home room, selain untuk mengidentifikasikan masalah dapat pula membantu siswa untuk mampu menghadapi dan mengatasi masalahnya
b.    Field drip (karya wisata)
Kegiatan karyawisata selain mrupakan kegiatan rekreasi ataupun salah satu metode mengajar, dapat pula difungsikan sebagai salah satu teknik dalam bimbingan kelompok (Djumhur dalam Eddy Hendrarno, dkk;2003). Melalui kegiatan karyawisata pertugas bimbingan dapat mengarahkan murid untuk belajar melakukan penyesuaian diri dalam kehidupan kelompok.. Tujuan teknik ini adalah pemberian informasi, pembentukan sikap dan pengembangan bakat serta minat.
c.    Group discussion bimbingan kelompok yang dilakukan dalam kelompok kecil (5-10 orang). Pada umumya diskusi kelompok berlangsung antara 30-60 menit.
d.    Pelajaran bimbingan
Bimbingan dilakukan dalam kelompok-kelompok
Diskusi kelompok merupakan salah satu teknik kelas yang telah ada. Pembimbing masuk dalam kelas seperti guru biasa, tidak mengajarkan mata pelajaran seperti dalam silabus, melainkan menyampaikan dan membahas masalah bimbingan.
e.    Kelompok bekerja
Kelompok kerja dibentuk dengan memperhatikan tingkah laku kemampuan, jenis kelamin, tempat tinggal dan jalinan hubungan social. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan belajar, menyalurkan bakat dan minat, membentuk sikap kooperatif dan kompetitif yang sehat, meningkatkan penyesuaian social, yang kesemuanya akan mengarahkan pada perkembangan murid.
f.    Pengajaran remidi
Pengajaran remidi diberikan kepada murid-murid yang mengalami kesulitan belajar.
g.    Organisasi murid
Pembimbing sekolah dapat mengarahkan agar murid dapat mengenal berbagai aspek kehidupan social, mengembangkan sikap kepemimpinan dan kerjasama, rasa tanggung jawab dan harga diri. Tujuannya antara lain menyangkut penyesuaian diri, sikap kepemimpinan dan kerjasama dan pemecahan masalah.
i.    Sosiodrama dan psikodrama
Bedanya, terletak pada jenisnya cerita yang dimainkan dan tekanan masalah yang hendak diceritakan. Pada sosiodrama lebih menekankan pada masalah psikis. Meskipun demikian antara keduanya sagat erat hubunganya dan kadang-kadang sulit dibedakan.

Apakah anda memiliki teknik yang lain? Silakan sharing di sini. (Meliana)
Sumber :

KU MENATAP

ku tau negri ini seperti apa tapi aku hanyabisa menatap kapan negri ini maju dan siapa yang akan memimpin negri ini masa depan nanti yang tidak akan lebih mementikan kelompoknya tetapi lebih mementingkan semua rakyat indonesia, dan kapan di negri ini akan berakhir dari kemerosotan moral bangsa. karena aku tau bahwa negri ini bukan lah negri yang miskin akan SDA dan SDM tetapi miskin Moral. tapi aku yakin kelak bahwa negri ini akan dipimpin oleh orang-orang yang memiliki moralitas yang tinggi yang tidak seperti pemimpin-pemimpin bangsa saat ini. AKU YAKIN ITU.

Rabu, 24 Juli 2013

Membuat Virtual CD Menggunakan Nero Image Drive

Membuat Virtual CD Menggunakan Nero Image Drive 21.52  WASKIM KIM  2 COMMENTS Membuat Virtual CD? Ada banyak software yang bisa kita gunakan untuk membuat virtual CD. Kalau selama ini kita mengenal yang namanya software Virtual CD Daemon, maka untuk kali ini saya akan menggunakan sebuah software bawaan Ahead Nero, yaitu Nero Image Drive. Sebelum kita lanjutkan pembahasan kita, mungkin ada yang belum tahu apa itu virtual CD. Saya jelaska dulu deh. Virtual CD adalah CD Drive Maya atau CD Bayangan. Nampak seolah-olah CD Drive biasa, tapi sebenarnya tidak ada CD-ROM secara fisik. Oke, sekarang kita lanjutkan bagaimana cara membuat virtual CD menggunakan nero image drive.
1.      Bukan program nero, kemudian klik Application (menu sebelah kiri) untuk memunculkan aplikasi yang dimiliki oleh nero. 
2.      Klik Nero ImageDrive 
3.      Dalam pilihan Option ada dua pilihan yaitu First Drive dan Second Drive. Untuk mengaktifkannya, klik atau ceklist Enable Drive. Klik OK.
 4.      Nah sekarang lihat di Windows Explorer, apakah sudah ada tambahan CD-ROM Drive. Kalau sudah ada berarti sudah sukses. 
Cara di atas baru tahapan kita membuat virtual drive. Lalau bagaimana agar drive maya tersebut bisa digunakan.
 1.      Buat dulu image CD dengan cara Copy CD, kemudian pada destionation drive pilih Image Recorder. Simpan image CD kamu misalnya di My Documen dengan nama Image CD
. 2.      Sekarang buka Aplikasi Nero ImageDrive lagi. Klik menu First Drive, Kemudian pada isi kolom Image dengan Image CD yang telah kita buat tadi yang kita simpan pada My Document dengan nama Image CD. Klik OK. Nah selesai, sekarang virtual CD yang kita buat sudah bisa kita gunakan untuk Play CD, Main Game dan lain sebagainya layaknya CD-ROM biasa. Demikian tutorial cara membuat virtual CD dengan menggunakan Nero ImageDrive. Semoga bermanfaat.

Sumber : http://fadhilgalery.blogspot.com/2012/02/membuat-virtual-cd-menggunakan-nero.html