This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 04 Mei 2014

METODE MATHMAGIC

PENGGUNAAN METODE MATHMAGIC 
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA TENTANG PERKALIAN
(Penelitian Tindakan Kelas Pada Kelas III Sekolah Dasar Negeri Lemahmukti 2 Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang)


PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan untuk Mengikuti Ujian Sidang Proposal Penelitian 
Pada Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar 
Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta



















Oleh

ALI SAPRUDIN
NIM. 0602687




PROGRAM S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN 
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 
KAMPUS PURWAKARTA
2008
A. Judul

PENGGUNAAN METODE MATHMAGIC UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA TENTANG PERKALIAN (Penelitian Tindakan Kelas Pada Kelas III Sekolah Dasar Negeri Lemahmukti 2 Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang)

B. Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada dasarnya diselenggarakan dalam rangka membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang melingkupinya. Pendidikan menurut Freire (Yunus, 2005:1) “merupakan salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi manusia menjadi manusia agar terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan sampai kepada ketertinggalan”. Pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu transfer pengetahuan dari semua bentuk kejadian di dunia dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lainnya, dan nantinya akan mempengaruhi proses kehidupan makhluk hidup itu sendiri. Pendidikan adalah kebutuhan dasar (basic need) hidup manusia. Pendidikan juga merupakan sebagai hak asasi manusia, dalam arti yang lebih luas bahwa pendidikan bertujuan untuk memberikan kemerdekaan kepada manusia dalam mempertahankan hidupnya.
Di dalam prosesnya pendidikan selalu mengalami perubahan selaras dengan proses pertumbuhan suatu masyarakat. Setiap masyarakat mempunyai cara tersendiri antara satu dengan yang lainnya sesuai dengan pemahaman, pengertian, dan tujuan hidup yang mereka hayati. Sistem pendidikan biasanya berbentuk sesuai dengan pandangan hidup suatu masyarakat. Apabila pandangan hidup suatu masyarakat terbuka, maka akan lebih mudah untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, dan dalam sistem pendidikannya pun akan banyak memberikan kesempatan kepada generasi baru untuk mengembangkan dan mempersiapkan diri guna menghadapi tuntutan zaman yang selalu berubah.
Perubahan-perubahan dalam dunia pendidikan biasanya diikuti oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena kemajuan tersebut tentu saja harus didukung oleh setiap pelaku pendidikan agar pendidikan dapat diselaraskan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Untuk itu, guru selaku pelaku pendidikan harus memberikan wawasan kepada anak didiknya agar turut serta membangun iklim pendidikan. 
Dalam peranannya pelaku pendidikan mengarahkan kepada anak didiknya untuk berfikir kretif dan inovatif serta menarik. Pemikiran yang demikian itu tidak datang dengan sendirinya melainkan harus melalui rangsangan metode pembelajaran yang variatif serta menarik minat anak didik. 
Kualitas pendidikan seyogianya dinilai dari keberhasilan dalam mengembangkan diri mewujudkan potensi yang dimiliki manusia, sehingga manusia itu dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi kesejahteraan diri dan kesejahteraan manusia pada umumnya. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bab II pasal 3 yang berbunyi :
“ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” 
Tujuan pendidikan dirancang untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, baik yang berhubungan secara vertikal (sesama manusia) maupun secara horisontal (Sang Pencipta) serta mampu bersaing dengan negara lain. Selaras dengan konsep tujuan pendidikan nasional diatas, maka tujuan dari mata pelajaran matematika adalah:
1) Memahami konsep metamatika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah; 2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dalam pernyataan matematika; 3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; 4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk menjelaskan keadaan masalah; 5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan ( 2006 : 9 )

Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional dan tujuan dari mata pelajaran matematika, maka berbagai macam cara ditempuh oleh pelaku pendidikan maupun orang yang perduli terhadap pendidikan baik yang bersifat formal maupun non formal untuk terus menciptakan metode pembelajaran yang kreatif, inovatif serta menarik minat anak didik untuk selalu mencintai dan menyukai terhadap belajar matematika, sebab belajar matematika menurut sebagian besar anak-anak merupakan pembelajaran yang sangat sulit dan memusingkan. Banyak metode pembelajaran yang berkembang dewasa ini yang telah diciptakan untuk memudahkan anak didik untuk menyukai terhadap matematika diantaranya adalah metode belajar mathmagic.
Metode belajar mathmagic adalah salah satu metode belajar terhadap operasi hitung pada pelajaran matematika yang diantaranya adalah operasi hitung perkalian. Dalam metode mathmagic anak didik diarahkan untuk dapat memahami operasi hitung perkalian dengan cara cepat dan mudah. Metode mathmagic ini nantinya tidak hanya diaplikasikan diatas kertas namun diharapkan anak didik mampu menghitung perkalian menggunakan daya nalarnya (operasi hitung tanpa melalui penulisan terlebih dahulu).
Akan tetapi, dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) sebelum mengenal lebih jauh tentang perkalian sebaiknya guru mengetahui terlebih dahulu kemampuan anak didiknya. Sebab, pada perkalian ini anak didik minimal haruslah paham tentang dasar matematika yaitu penjumlahan dan pengurangan, sebab arti dari perkalian adalah penjumlahan berulang. Setelah paham betul kemampuan anak didik tentang penjumlahan dan pengurangan, barulah guru dapat menerapkan perkalian.
Sesuai dengan uraian diatas, maka kami mencoba menerapkan metode mathmagic dengan maksud supaya setiap individu pelajar memiliki kemampuan operasi hitung perkalian yang mudah dan cepat serta mampu menghitung operasi hitung perkalian dengan menggunakan daya nalar.
Penelitian kami tujukan pada SD Negeri Lemahmukti II kecamatan Lemahabang kabupaten Karawang dengan judul : PENGGUNAAN METODE MATHMAGIC UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA TENTANG PERKALIAN (Penelitian Tindakan Kelas Pada Kelas III Sekolah Dasar Negeri Lemahmukti 2 Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang).



C. Perumusan Masalah

Tujuan pembelajaran matematika dapat berhasil dengan optimal manakala nilai profesionalisme guru dalam mata pelajaran matematika cukup memadai. Setiap guru seyogianya memberi pasilitas dan pengkondisian siswa yang sesuai dengan tujuan dari pembelajaran. Selain itu, guru seyogianya menguasai berbagai bahan ajar dan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Karena guru di sekolah dasar merupakan guru kelas, dalam arti setiap mata pelajaran yang diberikan di sekolah dasar dikuasai oleh guru. 
Agar kajian ini tidak terlalu lebar, maka perlu ditentukan pembatasan masalah dalam penelitian yang dilakukan. Adapun pembatasan tersebut pada penelitian ini terfokus pada operasi hitung perkalian dua digit. 
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, rumusan masalah yang diangkat dalam kajian ini adalah:
1. Apakah hasil belajar mata pelajaran matematika siswa kelas III SDN Lemahmukti II Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang sebelum menggunakan metode mathmagic dalam operasi hitung perkalian dua digit sudah cukup baik?
2. Apakah proses belajar siswa kelas III SDN Lemahmukti II Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang dengan menggunakan metode mathmagic operasi hitung perkalian dua digit menjadi lebih baik?
3. Apakah hasil belajar siswa kelas III SDN Lemahmukti II Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang setelah menggunakan metode mathmagic operasi hitung perkalian dua digit mengalami peningkatan yang baik? 
D. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam kajian ini adalah ingin mengetahui kemajuan prestasi hasil belajar siswa dalam mata pelajaran matematika dengan menggunakan metode mathmagic. Secara rinci tujuan yang ingin dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Ingin mengetahui hasil belajar siswa kelas III SDN Lemahmukti II Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang dalam pembelajaran mata pelajaran matematika sebelum menggunakan metode mathmagic operasi hitung perkalian dua digit.
2. Ingin mengetahui aktivitas belajar siswa kelas III SDN Lemahmukti II Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang selama pembelajaran mata pelajaran matematika dengan menggunakan metode mathmagic operasi hitung perkalian dua digit.
3. Ingin mengetahui hasil belajar siswa kelas III SDN Lemahmukti II Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang setelah pembelajaran mata pelajaran matematika dengan menggunakan metode mathmagic operasi hitung perkalian dua digit. 
E. Kegunaan Penelitian
Adapun manfaat yang ingin dicapai dari kajian ini adalah didapat informasi baru tentang kemajuan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran mata pelajaran matematika operasi hitung perkalian dua digit dengan menggunakan metode mathmagic, secara rincinya didapat informasi tentang:
1. Hasil belajar kelas III SDN Lemahmukti II Kecamatan Lemahabang dalam proses pembelajaran mata pelajaran matematika sebelum menggunakan metode mathmagic operasi hitung perkalian dua digit.
2. Aktivitas belajar kelas III SDN Lemahmukti II Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang dalam proses pembelajaran mata pelajaran matematika dengan menggunakan metode mathmagic operasi hitung perkalian dua digit. 
3. Hasil belajar kelas III SDN Lemahmukti II Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang setelah menggunakan metode mathmagic operasi hitung perkalian dua digit.

F. Klarifikasi Konsep
Dalam kajian ini terdapat istilah-istilah yang dianggap perlu dijelaskan maknanya guna memenuhi rambu-rambu penelitian dan juga memahami makna yang dimaksud dalam naskah penelitian. Istilah-istilah dimaksud adalah: 
1. Penggunaan Metode Mathmagic
Metode mathmagic adalah salah satu metode dalam pembelajaran/ penghitungan matematika yang didirikan oleh Ir. Bekti Hermawan Handojo dan istrinya Ir. Srihari Ediati. Maksud dari metode mathmagic adalah bagaimana menciptakan penghitungan yang cepat pada operasi hitung matematika. Selain itu metode ini diharapkan mampu menciptakan anak yang dapat berhitung tanpa harus menggunakan alat bantu elektronik (kalkulator) dan tanpa harus ditulis terlebih dahulu. Artinya anak diharapkan mampu menghitung KaBaTaKu (kali bagi tambah kurang) dengan daya nalarnya.
Selain metode mathmagic, pasangan suami istri ini mendirikan komunitas untuk siapa saja, dari berbagai propesi dan latar belakang pendidikan untuk selalu buka mata serta peduli, serta menghargai kejeniusan anak-anak termasuk dalam dunia pendidikan anak. Komunitas itu didirikan pada 1 Januari 2004 dengan nama Komunitas Buka Mata di kota Bogor. Atau dapat diakses melalui www.bukamata.com. Handojo dan Ediati (2005: 86-89)
2. Meningkatkan Kemampuan Siswa tentang Perkalian
Secara operasional, meningkatkan hasil pembelajaran dalam penelitian ini adalah serangkaian proses belajar yang telah dicapai oleh setiap peserta didik dalam mata pelajaran matematika kelas III, khususnya pada operasi hitung perkalian dua digit. Hasil belajar dinyatakan dalam bentuk angka yang didapat dari prestasi belajar. 
Berangkat dari pengertian diatas, proposal penelitian “Penggunaan Metode Mathmagic untuk Meningkatkan Kamampuan Siswa tentang Perkalian (Penelitian Tindakan Kelas Pada Kelas III Sekolah Dasar Negeri Lemahmukti 2 Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang)” mempunyai makna peningkatan prestasi belajar peserta didik dalam mata pelajaran matematika melalui metode mathmagic. 
Dengan menggunakan metode mathmagic, pembelajaran mata pelajaran matematika tentang perkalian dua digit diduga akan lebih disenangi serta dapat meningkatkan kemampuan operasi hitung dengan cara ditulis pada kertas serta dengan menggunakan daya nalar.

G. Ringkasan Tinjauan Teoritis
Tujuan dari mata pelajaran matematika adalah untuk menciptakan anak didik yang memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika dan sikap ulet serta percaya diri dalam pemecahan masalah. (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006: 9).
Bahan pembelajaran matematika dirancang secara sistematis berdasarkan tahap psikologi dan kemampuan anak didik. Materi pelajaran berorientasi pada fungsi, tujuan, dan ruang lingkup mata pelajaran matematika serta standar kompetensi dan kompetensi dasar. Adapun hasil belajar, indikator, dan pengalaman belajar dirumuskan oleh pihak sekolah, komite sekolah, dan masyarakat yang peduli terhadap dunia pendidikan. 
Sebab, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diolah oleh tingkat satuan pendidikan itu sendiri dalam hal ini sekolah dasar, untuk memajukan dunia pendidikan sesuai dengan karakter, psikologi dan budaya dimana sekolah itu berada.
Salah satu dari menginterpretasikan KTSP adalah bagaimana guru menciptakan model pembelajaran yang menarik bagi anak didik, yaitu dengan metode mathmagic. Handojo dan Ediati (2005: 23-24) mengatakan bahwa metode mathmagic ini mempunyai cara khusus yang harus diikuti antara lain:
1. Pahami Arti Angka.
Salah satu untuk mengingat perkalian dalam kepala kita adalah dengan mendapatkan gambaran yang jelas masing-masing posisi digit. Apakah satuan, puluhan, atau ribuan. Jika kita dapat menggambarkan konsep ini dan menyimpan dalam memori kita, kita akan dapat mengerjakan soal-soal yang lebih rumit.
2. Pikirkan Angka Maju daripada Mundur
Metode penghitungan dari kiri ke kanan sangat penting dan mudah dilakukan.
Hal ini karena kita dapat segera menyimpulkan segera jawaban. 
3. Kembangkan Memori Kita
Perhitungan perkalian dengan metode dari kiri ke kanan lebih cepat dan mudah menciptakan gambaran dalam otak kita daripada perkalian metode lama. Jika melatih diri mengikuti angka dasar dalam kepala, kita akan menemukan bahwa kita tidak memerlukan pensil untuk mengalikan atau menambah.
4. Latihan
Perkalian silang adalah trik ringan sampai kita mendapatkan teknik dan strategi yang ampuh. Catat dalam ingatan “latihan akan mengembangkan kemampuan dan keterampilan kita”.
5. Kreatif 
Perkalian selalu penuh dengan kemungkinan. Jadi kita harus lebih kreatif dalam menentukan strategi apa yang akan digunakan. Ingat, perkalian angka akan sering kita temui, dimana saja dan kapan saja. 
Berangkat dari uraian diatas, kaitannya dengan penelitian ini dapat diungkapkan bahwa fungsi pembelajaran mata pelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses bertujuan agar siswa dapat mengikuti pelajaran matematika dengan cara melakukan, memahami, mengembangkan, mengingat dan latihan-latihan agar menjadi anak didik yang mahir dalam matematika khususnya perkalian dua digit menggunakan daya nalar. 

H. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) penelitian ini merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran serta mencoba hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil belajar.
Penelitian tindakan kelas adalah penelitian praktis yang bertujuan untuk:
(a) Memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dikelas. (b) Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi masalah pembelajaran dikelas agar pembelajaran bermutu. (c) Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam pemecahan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya. (d) Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. (e) Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru. . 
2. Sumber Data
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SD Negeri Lemahmukti II Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang. Yang menjadi dasar pertimbangan populasi penelitian ini adalah “bahwa anak usia 12 tahun pertama mengalami pembentukan kecerdasan ketika pertumbuhan struktur dan fungsi otak mencapai tahap tertinggi. Surya (2006: 5). Artinya bahwa setiap anak dapat menyimpan memori pelajaran ketika pada usia maksimal 12 tahun. Konsep ini sejalan dengan intilah tabularasa, anak kecil laksana kertas kosong yang masing memungkinkan untuk diisi dan ditulisi dengan apa saja tergantung dari lingkungan sekitarnya.
Sample yng diambil untuk dijadikan objek penelitian ini sebanyak 27 siswa, dengan rincian siswa laki – laki berjumlah 11orang dan perempuan berjumlah 16 orang. 
Untuk lebih rinci lagi serta dianggap perlu guna menggungkapkan jumlah keseluruhan peserta didik yang menimba ilmu di SDN Lemahmukti II tempat dilaksanakannya penelitian yaitu berjumlah sebanyak 213 orang peserta didik, terdiri dari 98 orang siswa , dan 115 orang siswi.

No Kelas Laki - laki Perempuan Jumlah
1 I 27 16 43
2 II 21 30 51
3 III* 11 16 27
4 IV 12 24 36
5 V 15 14 29
6 VI 12 15 27
Jumlah 98 115 213
(Dokumen SDN Lemahmukti II Tahun ajaran 2007/2008)
Ket. *) siswa kelas III yang dijadikan objek penelitian
3. Prosedur Penelitian
a. Penyusunan 
Dalam kegiatan PTK ini perlu dilakukan kegiatan pokok, yaitu : 1) mendeskripsikan dan menemukan masalah PTK dengan berbagai model atau cara; 2) menentukan cara pemecahan masalah dengan pendekatan, strategi, media, atau kiat tertentu; 3) memilih dan merumuskan masalah baik berupa pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya; 4) menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan; 5) menetapkan tujuan pelaksanaan PTK; 6) menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrumen yang diperlukan untuk menjaring data PTK; 7) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data PTK 
b. Kinerja 
Melaksanakan siklus (rencana tindakan) di dalam kelas. Dalam kegiatan ini diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai dengan kondisi kelas. Selama pelaksanaan tindakan kelas dalam siklus dilakukan pula pengamatan dan refleksi, baik pelaksanaan tindakan, pengamatan maupun refleksi dapat dilakukan secara beriringan bahkan bersamaan
c. Analisis 
Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, maupun refleksi. Analisis data ini harus disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data ini harus dirumuskan sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data ini dipaparkan sebagai hasil PTK. 
2. Pengolahan dan Analisis Data
Adapun analisis data tersebut, dilakukan dengan analisis deskriptif terhadap variable yang terkandung dalam pemecahan masalah. Sedangkan data yang terkumpul dari siswa yaitu berupa hasil belajar dan tanggapan tentang penerapan pembelajaran matematika dengan menggunakan penggunaan Metode Mathmagic perkalian operasi hitung dua digit.


I. Sistematika Laporan Penelitian
Laporan penelitian ini diawali dengan bab pendahuluan dan diakhiri dengan bab kesimpulan dan rekomendasi, yaitu:
Bab I merupakan bab pendahuluan, berisikan: a) latar belakang masalah; b) perumusan masalah; c) tujuan penelitian; d) kegunaan penelitian; e) klarifikasi konsep; f) ringkasan tinjauan teoritis; g) metodologi penelitian; h) sistematika laporan; i) agenda kegiatan.
Bab II berisikan kajian teoritik yang berkaitan dengan teori-teori pembelajaran mata pelajaran matematika dengan menggunakan metode mathmagic. 
Bab III merupakan metode penelitian berisikan: a) pendekatan yang digunakan; b) menetapkan sumber data dan jenis data; c) teknik pengumpulan data; d) penetapan penggunaan metode dan bahan ajar; e) tahap penelitian; f) analisis data.
Bab IV merupakan pembahasan hasil kajian, dan Bab V merupakan penutup yang berisikan kesimpulan dan rekomendasi. 

J. Agenda Kegiatan
No Kegiatan Februari Maret 
1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pengajuan Proposal x x x 
2 Bimbingan x x x x x x x x
3 Penulisan Naskah Bab I x x x x 
4 Penulisan Bab II x x x

No Kegiatan April Mei 
1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penulisan Naskah Bab II x x x 
2 Pengumpulan Data x x x x 
3 Pengolahan Data x x x


No Kegiatan Juni Juli 
1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penulisan Naskah Bab III x x x 
2 Penulisan Naskah Bab IV x x x x 
3 Penulisan Naskah Bab V x x 
4 Penyempurnaan Naskah x x x









K. Daftar Rujukan

Alisah, Evawati dan Dharmawan, Eko.P. (2007). Filsafat Dunia Matematika: Pengantar untuk Memahami Konsep-konseo Matematika. Jakarta : Prestasi Pustakaraya.
------------. (2006). Undang – undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang GURU DAN DOSEN. Jakarta : CV. Laksana Mandiri
Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Jakarta : Depdiknas
Handojo, Bekti. H. dan Ediati, Srihari. (2005). Mathmagic. Depok : PT. Kawan Pustaka. 
Misma. (2007). Teori Belajar Gestalt. [Online]. Tersedia : http//www. E-Learning Management Sistem and Others Materials :Teori Belajar Gestalt. html[12 Desember 2007)
Surya, Sutan. (2007). Melejitkan Multipli Intelligence Anak Usia Dini. Jogjakarta : CV. Andi Offset.
Tim Penyusun Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. (2006). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung : Depdiknas Universitas Pendidikan Indonesia.
Wisna, Gde Bimananda M. (2007). Sejarah Matematika : [sos-bali] Untuk Mengingat Saudara Setanah dan Setumpah Darah Tanah Air.[Online]. Tersedia :http//www.google.com/ensiklopedia matematika/sejarah matematika. html. [9 Desember 2007].
Yunus, Firdaus. M. (2005). Pendidikan Berbasis Realitas Sosial : Paulo Freire dan Y.B. Mangun Wijaya. Jogjakarta: Logung Pustaka.
zfikri@telkom.net. (2007). Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research). [Online]. Tersedia : http//www. Geocities.com/pakguruonline.html[12 Desember 2007]. 






. Lampiran 


BIODATA PENELITI

Ali Saprudin, lahir di Pekalongan pada tanggal 12 November 1982, tiga bersaudara. Tinggal di Lemahabang Kabupaten Karawang. Menyelesaikan jenjang pendidikan di SD Negeri Lemahabang VII tahun 1994/1995, MTs An-nur Lemahabang tahun 1997/1998 dan SMK Taruna 
Karya 1 Karawang tahun 2000/2001. 
Sedangkan jenjang perguruan tinggi lulusan D2 PGSD UPI kampus Purwakarta tahun 2005.

” RESOURCE-BASED LEARNING”

Belajar dan Pembelajaran
” RESOURCE-BASED LEARNING”
DISUSUN OLEH:
Delly Haryani                              

RESOURCE-BASED LEARNING
Pengertian “Resource-Based Learning” adalah segala bentuk belajar yang langsung Menghadapkan murid dengan suatu atau sejumlah sumber belajar, secara individual atau kelompok dengan segala kegiatan belajar yang bertalian dengan itu, jadi bukan dengan cara yang konvensional dimana guru menyampaikan bahan pelajaran kepada murid. maksudnya sumber belajar yang dijelaskan diatas adalah segala sesuatu (berupa data, orang atau benda) yang dapat dimanfaatkan untuk membuat atau membantu peserta didik belajar.
Pesan         orang           benda          alat            teknik            latar lingkungan
Jadi disini dalam metode “Resource-Based Learning” guru bukan merupakan sumber belajar satu-satunya. Murid dapat belajaran dalam laboraaturium, dalam perustakaan dan bahkan diluar sekolah yang mereka dapat berfikir sendiri bagaimana memecahkan masalah tertentu.Dengan metode ini siswa di latih untuk belajar mandiri. Dengan penemuan sendiri, maka setiap siswa memiliki konsep dengan konsep tersebut mereka di tuntut untuk melahirkan kembali dalam bentuk berbeda, di sini mereka di beri kebebasan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu dengan menuangkan kembali konsep yang telah ada dengan bahasa mereka sendiri, dan secara tidak langsung hal semacam ini menjadikan anak didik atau siswa lebih kreatif dan mandiri. Disinilah letak pentingnya penggunaan metode belajar resource based learning dalam meningkatkan kemandirian belajar siswa.
Secara umum, cara belajar (learning style) peserta didik dapat dikategorikan ke dalam 4 hal. Yaitu: 
  • 1. Cara belajar somatik, yakni pola belajar yang lebih menekankan pada aspek gerak tubuh atau belajar dengan melakukan.
  • 2. Cara belajar auditif, yaitu cara belajar yang lebih menekankan pada aspekpendengaran, peserta didik akan cepat menangkap materi pelajaran jika materidisampaikan dengan ceramah atau alat yang dapat didengar.
  • 3. Cara belajar visual, yaitu cara belajar yang lebih menekankan pada aspek penglihatan, peserta didik akan cepat menangkap materi pelajaran, jika disampaikan dengan tulisanatau melalui gambar. 
  • 4. Cara belajar intelektual, yaitu cara belajar yangmenekankan pada aspek penalaran atau logika. Peserta didik akan cepat menangkap materi, jika pembelajaran dirancang dengan menekankan pada aspek mencai solusi pemecahan.
Latar belakang “Resource-Based Learning”
Belajar berdasarkan sumber atau “Resource-Based Learning” bukan suatu yang berdiri sendiri, melainkan bertalian erat dengan sejumlah perubahan0perubahan yang memepengaruhi pembinaan kurikulum. Perubahan-perubahn itu mengenai:
1.     Perubahan dalama sifat dan pola ilmu pengetahuan manusia
2.     Perubahan dlaam masyarakat dan tafsiran kitatentang tuntutannya
3.     Perubahan tentang pengrtian kita tentang anak dan crannya belajar
4.     Perubahan dalam media kumunikasih.
Perubahan dalam pengetahuan manusia
Pengetahuna manusia akhir-akhir ini berkembangan dengan cepat sekali, sehingga dijuluki sebagai eksplosi pengetahuan. Eksplosi pengetahuan bukan hanya mengenai pertambahan ilmu pengetahuan, melainkan juga perubahan dalam pola pengetahuan itu sendiri. Disamping eksplosi pengetahuan, terjadi pula eksplosi publikasi, karangan-karangan ilmiah dan teknologi terus bertambah dalam tiap tahunnya, akan tetapi yang mungkin dapat dikuasai hanya hal-hal yang paling umum saja yang dapat diajarkan disekoalah. Dengan perkembangan ilmu yang begitu cepat pengetahuan kita akan menjadi using dalam waktu sepuluh tahun, dan mungkin sekarang pun telah using dan tidak berlaku lagi, maka karena itu perlu adanya suatu teori tentang cara menyeleksi bahan pelajaran, cara menentukan prioritas pengetahuan yang akan dimasukkan kedalam kurikulum, yakni pengetahuan yang paling penting dan paling beguna. Namun sulit diramal pengetahuan apa yang akan berguna bagi anak dimasa mendatang Tetapi yang lebih penting ialah memupuk sikap dan teknik belajar, agar peserta didik dapat terus belajar sepanjang hidupnya.
Belajar tidak hanya berlangsung didalam sekolah. Timbulah pendirian bahwa sekolah bukan satu-satunya alat pendidikan, bahkan ada yang menginginkan agar sekolah dihapuskan saja didigantikan dengan “learning webs atau network, jadi dalam “de-schooling society” ini, yakni masyarakat tanpa kelembagaan sekolah, seluruh masyarakat diminta kerja sama dan berpartispasi. Anak-anak belajar atas kemauannya sendiri dalam suasana kebebasan memilih dan bebas dari otoritas lembaga sekolah.

Pemahan baru tentang pelajar

Jika dahulu diutamakan soal mengajar, maka akhir-akhir ini ditonjolkan soal belajar, setidaknya dalam tiori. Selain itu diketahui bahwa belajar dapat akan berhasil bila bahan pelajarannya sesuai dengan kebutuhan dan minat anak. Diketahui setiap anak itu berbeda secara individual,  bahwa perbedaan individual itu perlu mendapatkan perhatian yang lebih banyak.
Dalam kenyataan, masih kebanyakan proses belajar mengajar di lakukan secara klasikal walaupun diketahui bahwa ada perbedaan individual, namun tetap diharapkan dan dituntut dari setiap anak untuk belajar dengan kecepatan yang sama. Walaupun diketahui setiap anak itu berbeda Dalam kenyataan, masih kebanyakan proses belajar mengajar di lakukan secara klasikal walaupun diketahui bahwa ada perbedaan individual, namun tetap diharapkan dan dituntut dari setiap anak untuk belajar dengan kecepatan yang sama.. Dalam pengajaran klasikal anak yang lambat dan anak yang berbakat boleh dikatakan tidak mendapat perhatian yang selayaknya, dengan metode yang sama tidak semua murid memperoleh manfaat yang sama dengan artian bahwa setiap anak memiliki cara-cara tersendiri dalam memahami suatu pelajaran, ada kalanya seorang anak merasa mudah memahami suatu pelajaran dengan membaca, maka dia cukup dengan membaca. Tetapi ada juga yang hanya dengan mendengar sudah cukup untuk memahami suatu pelajaran. Salah satu usaha untuk mempertimbangkan perbedaan individual itu adalah pengajaran berdasarkan sumber-sumber, resource based learning. Cara belajar yang serupa ini memberi kebebasan kepada anak untuk belajar sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Ia bebas pula belajar sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya. Dengan cara ini kegagalan dan frustasi dapat dibatasi.

Perubahan dalam media komunikasi
Perkembangan media komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat dewasa ini, media cetak yang berupa buku, modul, media elektronik yang berupa radio, TV, video, komputer, internet, dan sebagainya telah menambah dimensi baru dalam media komunikasi. Ada yang berpendapat bahwa banyak dari apa yang diketahu anak pada zaman modern ini diperoleh melalui media massa.
Pendidik perlu melihat manfaat kemajuan media komunikasi bagi pembelajaran. Buku sampai sekarang masih memegang peranan  penting, namun ada yang meramalkan dalam waktu dekat semua aspek kurikulum akan dikomputerkan. Penggunaan media dalam pendidikan dimulai dengan memperkenalkan “audio visual aids” pada tahun 1920-an di Amerika Serikat. Alat-alat dipandang sebagai alat bantu pendidik dalam mengajar, sebagai tambahan yang dapat digunakan pendidik bila dikehendakinya.
Pada tahun 1960-an muncul pemikiran baru tentang penggunaan media yang dirintis oleh Skinner dengan penemuannya “programmed instruction” atau pengajaran berprograma mempunya pengaruh besar pada teknologi pendidikan . Dengan alat ini peserta didik belajar secara individual. Alat tersebut bukan sekedar alat bantu tambahan tetapi sesuatu yang digunakan peserta didik dalam pembelajaran. Pengajaran berprograma mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan teknologi pendidikan.misalnya Negara-begara besar sudah memanfaatkan media komunikasih ini sebagai proses belajar.


Ciri-ciri belajar berdasarkan sumber

a. Belajar berdasarkan sumber (BBS) memanfaatkan sepenuhnya segala sumber informasi sebagai sumber bagi pelajaran termasuk alat-alat audio visual dan memberi kesempatan untuk merencanakan kegiatann belajar dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia.
b. Belajar berdasarkan sumber berusaha memberi pengertian kepada siswa tentang luas dan aneka ragamnya sumber-sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk belajar.
c. Belajar berdasarkan sumber berhasrat untuk mengganti pasivitas murid dalam belajar tradisional dengan belajar aktif didorong oleh minat dan keterlibatan diri dalam pendidikannya.
d. Belajar berdasarkan sumber berusaha untuk meningkatkan motivasi belajar dengan menyajikan berbagai kemungkinan tentang bahan pelajaran metode kerja, dan medium komunikasi, yang berbeda sekali dengan kelas yang konvensional yang mengharuskan murid –murid belajar yang sama dengan cara yang sama.
e. Belajar berdasarkan sumber memberi kesempatan kepada murid untuk bekerja menurut kecepatan dan kesanggupan masing- masing dan tidak dipaksa bekerja menurut kecepatan yang sama dalam hubungan kelas.
f. Belajar berdasarkan sumber lebih fleksible dalam penggunaan waktu dan ruang belajar. Jadi dengan cara belajar ini murid- murid tidak diharuskan belajar bersama dalam ruang yang sama pada waktu yang sama.
g. Belajar berdasarkan sumber berusaha mengembangkan kepercayaan akan diri sendiri dalam hal belajar yang memungkinkannya untuk melanjutkan belajar sepanjang hidupnya. Murid -murid dibiasakan untuk mencari dan menemukan sendiri sehingga ia tidak selalu bergantung pada orang lain.
Belajar berdasarkan sumber tidak meniadakan peranan guru. Juga tidak berarti bahwa guru dapat duduk bermalas-malasan dan membiarkan murid belajar diperpustakaan atau laboraturium. Guru itu terlibat dalam setiap langkah proses belajar, dari perancanaan, penentuan dan pengumulan sumber-sumber informasi, member motifasi, member bantuan apabila diperlukan dan bila dirasanya perlu memperbaiki kesalahan. Gurulah yang mengusahakan adanya keseimbangan antar waktu untuk belajar sendiri, bekerja dalam kelompok dan berdiskusi dan memberikan informasi dan penjelasan secara langsung dengan metode ceramah. Jadi tujuan pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh murid dalam metode belajar ini banyak dipengaruhi oleh guru juga.
Dengan pelaksanaannya guru harus kerja sama dengan ahli perpustakaan yang lebih mengenal sumber-sumber bacaan yang ada. Ada kalanya diperklukan alat pelajaran berupa grafik atau gambar untuk menjelaskan konsep tertentu. Untuk itu diperlukan orang yang ahli dalam pembuatan alat peraga sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Kerja sama juga diperlukan dengan guru-guru laian yang mempunyai keahlian dan pengalaman masing-masing didalam dan diluar sekolah. Kerja-sama yang erat antara guru-guru terdapat dalam team teaching, dalam kelompok atau team guru dapat saling bertukar pengalaman, saling membantu dalam kesulitan pendidikan.
Pelaksanaannya
“ Resource – based learning “ adalah cara belajar yang bermacam-macam bentuk dan segi-seginya. Metode ini dapat singkat atau panjang, berlangsung selama satu jam pelajaran atau satu setengah semester dengan pertemuan dua kali seminggu selama satu atau dua jam, dapat di arahkan oleh guru atau berpusat pada kegiatan murid, dapat mengenai satu mata pelajaran tertentu atau melibatkan berbagai disiplin, dapat bersifat individual atau klasikal, dapat menggunakan alat audio visual yang di amati secara individual atau di perlihatkan kepada seluruh kelas. Metode ini tampaknya sebagai suatu yang terdiri atas berbagai komponen yang meliputi pengajaran langsung oleh guru, penggunaan buku pelajaran biasa, latihan-latihan formal, maupun kegiatan penelitian, pencarian bahan dari berbagai sumber, latihan memecahkan soal dan penggunaan alat-alat audio visual. Metode ini dapat pula didasarkan atas penelitian, pengajar proyek, pengajaran unit yang terintegrasi, pendekatan inter displiner, pelajaran individual dan pengajaran aktif. Yang penting ialah bahwa setiap metode yang digunakan bertalian dengan tujuan yang ingin di capai. Tujuan untuk mendidik anak agar sanggup memecahkan masalah memerlukan metode yang lain bila tujuannya mengumpulkan informasi. Jika dalam belajar berdasarkan sumber diutamkan tujuan untuk mendidik murid menjadi seorang yang sanggup belajar dan meneliti sendiri, maka ia harus dilatih untuk menghadapi masalah-masalah yang terbuka bagi jawaban-jawaban yang harus diselidiki kebenarannya berdasarkan data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, baik dari penelitian perpustakaan, eksperimen dalam laboratoriun, maupun sumber-sumber lain.
 “ Resource – based learning “ tidak hanya sesuai bagi pelajaran ilmu social, akan tetapi juga bagi ilmu pengetahuan alam. Pada hakekatnya setiap mata pelajaran dapat mempunyai komponen yang bertalian dengan sumber tertentu.
            Dalam pelaksanaan cara belajar ini perlu diperhatikan hal-hal berikut :

1.Pengetahuan yang ada
            Ini mengenai pengetahuan guru tetang latar belang murid dan penegtahuan murid tentang bahan pelajaran.

2.Tujuan pelajar
Guru harus merumuskan dengan jelas tujuan apa yang ingin dicapai dengan pelajaran itu. Tujuan ini tidak hanya mengenal bahan yang harus dikuasai akan tetapi juga keterampilan dan tujuan emisional dan social.tujuan ini turut menentukan metode yang akan digunakan.

3.Memilih Metodologi
metode pelajaran banyak ditentukan oleh tujuan. Bila topic yang dihadapi itu luas seperti dalam pengajaran unit, berbagai ragam metode akan perlu digunakan. Biasanya metode itu akan mengandung unsure-unsur berikut:
·       Uraian tetang apa yang akan dipelajari
·       Diskusi dan pertukaran pikiran.
·       Kegiatan-kegitan yang menggunakan alat intruksional, laboratoriium, dll
·       Kegiatan-kgiatan dalam lingkungan sekitar sekolahseperti kunjungan kerja lapangan, eksporasi, penelitian.
·       Kegiatan-kegiatan yang menggunakan berbagai sumber belajar seperti perpustakaan, alat audio-visual dll
·       Kegiatan kreatif seperti drama,seni rupa, music, pekerjaan tangan.

            Dalam berbagai kegiatan itu murid-murid berlatih untuk mengadakan observasi yang sistematis, membuat catatan, dan membuat laporan tertulis.

4.Koleksi dan penyediaan bahan
Harus diketahui bahan dan alat yang dimiliki oleh sekolah. Bahan dapat pula dipinjam, seperti buku dari perpustakaan umum. Bahan yang diperlukan oleh semua murid dapat di perbanyak dengan mesin stensil atau fotocopy. Juga bahan untuk kreatif dan lain-lalumnya.

5.penyediaan tempat
Penggunaan tempat tidak dapat dipergunakan secara bersamaan. Misalnya perpustakaan
http://dellyharyani.blogspot.com/2012/10/belajar-dan-pembelajaran.html

Model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI)

1. Pengertian model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction
Secara subtantif dan teoritik Aptitude Treatment Interaction (ATI) dapat dijadikan sebagai suatu konsep atau pendekatan yang memiliki sejumlah strategi pembelajaran yang efektif digunakan untuk individu tertentu sesuai dengan kemampuannya masing-masing
Dipandang dari sudut pembelajaran (Teoritik), ATI approach merupakan sebuah konsep yang berisikan sejumlah strategi pembelajaran yang sedikit banyaknya efektif digunakan untuk siswa tertentu sesuai dengan karakteristik kemampuannya. Didasari oleh asumsi bahwa optimalisasi prestasi akademik/hasil belajar dapat dicapai melalui penyesuaian antara pembelajaran (treatment)dengan perbedaan kemampuan (aptitude) siswa.
Sejalan dengan pengertian diatas, Cronbach yang dikutip Syafruddin Nurdin mengemukakan bahwa ATI approach adalah sebuah pendekatan yang berusaha mencari dan menemukan perlakuan-perlakuan (treatment) yang cocok dengan perbedaan (aptitude)kemampuan siswa, yaitu perlakuan (treatments) yang secara optimal diterapkan untuk siswa yang berbeda tingkat kemampuannya.
Berdasarkan pengertian yang dikemukakan diatas, dapat diperoleh makna esensial dari ATI approach, sebagai berikut :
1.    ATI approach merupakan suatu konsep atau model yang berisikan sejumlah strategi pembelajaran (treatment) yang efektif digunakan untuk siswa tertentu sesuai dengan perbedaan kemampuannya.
2.  Sebagai sebuah kerangka teoritik ATI approach berasumsi bahwa optimalisasi prestasi akademik/hasil belajar akan tercipta bila mana perlakuan-perlakuan dalam pembelajaran disesuaikan sedemikian rupa dengan perbedaan kemampuan (aptitude)siswa.
3.      Terdapat hubungan timbal balik antara prestasi akademik/hasil belajar yang dicapai siswa dengan pengaturan kondisi pembelajaran di kelas atau dengan kata lain, prestasi akademik/hasil belajar yang diperoleh siswa tergantung kepada bagaimana kondisi pembelajaran yang dikembangkan guru di kelas.
2. Tujuan model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction
Dari rumusan pengertian dan makna essensial yang telah dikemukakan di atas, terlihat bahwa secara hakiki ATI approach bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan suatu model pembelajaran yang betul-betul peduli dan memperhatikan keterkaitan antara kemampuan(aptitude)  seseorang dengan pengalaman belajar atau secara khas dengan metode pembelajaran(treatment).
Untuk mencapai tujuan seperti yang digambarkan di atas, ATI approach berupaya menemukan dan memilih sejumlah pendekatan, metode/cara, strategi, kiat yang akan dijadikan sebagai perlakuan (treatment) yang tepat yaitu treatment yang sesuai dengan perbedaan kemampuan (aptitude) siswa. Keberhasilan model pendekatan ATI mencapai tujuan dapat dilihat dari sejauh mana terdapat kesesuaian antara perlakuan-perlakuan (treatment) yang telah diimplementasikan dalam pembelajaran dengan kemampuan (aptitude) siswa.
Kesesuaian tersebut akan termanifestasi pada prestasi akademik/hasil belajar yang dicapai siswa. Semakin tinggi optimalisasi yang terjadi pada pencapaian prestasi akademik/hasil belajar siswa, maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pengembangan model pembelajaran ATI. Demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan utama ATI approach adalah terciptanya optimalisasi prestasi akademik/hasil belajar melalui penyesuaian pembelajaran (treatment) dengan perbedaan kemampuan (aptitude) siswa.
3. Prinsip model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction
Agar tingkat keberhasilan model pembelajaran dapat tercapai dengan baik, maka dalam implementasinya perlu diperhatikan beberapa prinsip yang dikemukakan oleh Snow (Hikmayanti 2009 : 20) yaitu :
1.  Bahwa interaksi antara kemampuan (aptitude) dan perlakuan (treatment) pembelajaran berlangsung di dalam pola yang kompleks dan senantiasa dipengaruhi oleh variabel-variabel tugas/jabatan dan situasi.
2.  Bahwa lingkungan pembelajaran yang sangat terstruktur cocok bagi siswa yang memiliki kemampuan rendah, sedangkan lingkungan pembelajaran yang kurang terstruktur(fleksibel) lebih pas untuk siswa yang pandai.
3.  Bahwa bagi siswa yang memiliki rasa percaya diri kurang atau sulit dalam menyesuaikan diri (pencemas atau minder), cenderung belajarnya akan lebih baik bila berada dalam lingkungan belajar yang sangat terstruktur. Sebaliknya bagi siswa yang memiliki rasa percaya diri tinggi akan lebih baik dalam situasi pembelajaran yang agak longgar(fleksibel).
Dari prinsip-prinsip yang dikemukakan di atas, dapat dimengerti bahwa dalam mengimplementasikan model pembelajaran ATI, masalah pengelompokan dan pengaturan lingkungan belajar bagi masing-masing karakteristik kemampuan (aptitude) siswa, merupakan masalah mendasar yang harus mendapat perhatian yang serius.
4. Langkah-langkah pembelajaran Aptitude Treatment Interaction
Berdasarkan prinsip-prinsip model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction di atas maka dapat diadaptasi beberapa langkah yang dilakukan dalam pembelajaran, yaitu:
1.      Melaksanakan pengukuran kemampuan masing-masing siswa melalui tes kemampuan(aptitude testing). Hal ini dilakukan guna untuk mendapatkan data yang jelas tentang karakteristik kemampuan (aptitude) siswa.
2.      Membagi siswa atau mengelompokkan siswa menjadi tiga kelompok sesuai dengan klasifikasi yang didapatkan dari hasil aptitude testing. Pengelompokan siswa tersebut diberi label tinggi, sedang dan rendah.
3.     Memberikan perlakuan (treatment) kepada masing-masing kelompok (tinggi, sedang dan rendah) dalam pembelajaran.
4.   Bagi kelompok siswa yang memiliki kemampuan (aptitude) tinggi, perlakuan(treatment) yang diberikan yaitu belajar mandiri (self learning) dengan menggunakan modul atau buku-buku yang relevan. Pemilihan belajar mandiri melalui modul didasari anggapan bahwa siswa akan lebih baik jika dilakukan dengan cara sendiri yang terfokus langsung pada penguasaan tujuan khusus atau seluruh tujuan. Dengan kata lain dengan menggunakan modul siswa dapat mengontrol kecepatan masing-masing, serta maju sesuai dengan kemampuannya.
5.   Bagi kelompok siswa yang berkemampuan sedang dan rendah diberikan pembelajaran regular atau pembelajaran konvensional sebagaimana mestinya.
6.    Bagi kelompok siswa yang mempunyai kemampuan rendah diberikan special treatment, yaitu berupa pembelajaran dalam bentuk re-teaching dan tutorial.Perlakuan (treatment) diberikan setelah mereka bersama-sama kelompok sedang mengikuti pembelajaran secara regular. Hal ini dimaksudkan agar secara psikologis siswa berkemampuan rendah tidak merasa diperlakukan sebagai siswa nomor dua di kelas. Re-teaching-Tutorial dipilih sebagai perlakuan khusus untuk kelompok rendah, didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka lambat dan sulit dalam memahami secara menguasai bahan pelajaran. Oleh karena itu kelompok ini harus mendapat apersiasi khusus berupa bimbingan dan bantuan belajar dalam bentuk pengulangan pelajaran kembali melalui tambahan jam pelajaran (re-teaching) dan tutorial (tutoring), sehingga dengan cara demikian mereka bisa menguasai pelajaran yang  diberikan. Karena seperti diketahui bahwa salah satu tujuan pembelajaran atau program tutoring adalah untuk memberikan bantuan dalam pembelajaran kepada siswa yang lambat, sulit dan gagal dalam belajar, agar dapat mencapai prestasi akademik/hasil belajar secara optimal.
http://inspirasi-syafei.blogspot.com/2012/02/model-pembelajaran-aptitude-treatment.html